Now Playing Tracks

"Kamu tuh harus kompak sama temen, harus mau main sama mereka, kapan lagi coba kalau bukan sekarang"

Sensei… terlalu sering bilang begitu. Muak sih, tapi justru nasihat yang sederhana begitu termasuk nasihat yang sulit aku turuti.

Entah mengapa aku ini keras kepala. Kadang aku mengira aku ini rada tsundere, semacam kepingin tapi ngakunya ogah gitu.

Iya, aku gengsi ikutan main sama temen-temenku. Karena yang kutau, pasti banyak momen dimana aku dicuekki. Aku selalu mengumbar humor yang garing untuk menekan perhatian. Tapi yang kudapat cuma dimanfaatkan saja, Banyak yang mengaku mereka itu temanku, padahal mereka tak tau kebiasaanku yang sering tak menganggap kehadiran orang itu. Terkadang aku tak butuh teman. Tapi aku lebih sering butuh mahluk semacam teman itu.

Sungguh, ketika dilanda masalah apapun, solusinya pasti kutemukan. Aku cerita ke orang lain pun solusinya ya itu itu juga. Tapi kalau kupikirkan terus menerus, bukannya bertindak untuk menyelesaikan masalah, malah stress duluan. Mungkin benar, kalau sesuatu hal yang dipikirkan harusnya diceritakan ke orang lain. Mau hal itu konyol ataupun serius. Setiap manusia pastinya pingin didengar ucapannya. Yang namanya manusia memang ingin dihargai. Tetapi karena aku sering tak menghargai orang, aku kena juga. Sekarang kalau cerita ke orang lain, si orang nya nggak mau dengerin. Jadi aku bingung mau ngeluarin isi pikiran kemana biar nggak stress. Akhirnya ke media sosial. Diliatin sama orang lain, apalagi sama para mahasiswa yang perkataannya pada tajam seenak ngegaruk pantat itu. Dikatain lebay juga lol.

Tapi tajam tajam juga sungguh bermakna. Mungkin kesan pertama agak sakit hati, tapi kalau dibaca ulang memang nasihat yang berarti, Mentalku ya mana sama dengan mereka yang banyak pengalaman. Toh mentalku mental bocah, diberi sekejap mana langsung mengerti. Pingin gitu bilang makasih, tapi pasti mereka udah males ngobrol denganku.

Kau tau, sekali saja kau ngobrol denganku, obrolan tak akan berakhir sebelum kau mengakhirinya duluan.

Payah yah aku XD

Haaah… sial. Aku cewek. Berarti pola pikirku lebih mengutamakan perasaan. Segala dimakan hati. Kalau ngambil keputusan, buat jangka pendeknya aja. Kalau sedih, pasti mewek. Kalau manyun, dikatain jelek. Pingin cerita, nggak ada temen yang mau dicurhatin (ngulik masalah sendiri aja pusing apalagi dengerin masalah orang).

Otakku terlalu sering berpikir negatif huh…

Dou suru ka…

Halo, sudah lama nggak nyampah. lol kayak yang ada baca tulisan ini aja.

Eeto… Aku baru selesai ujian. Sudah lama aku menanti momen-momen kebebasan ini. Bisa bolos sekolah, nonton anime, baca manga, guling-gulingan di kasur, dan pastinya…. menggalau memikirkan masa depan.

Kukira, aku bakal bertarung mengejar PTN mantap dengan pilihan jurusanku sendiri, tapi nyatanya takdir mengatakan lain. Hanya mengerjakan soal fisika, matematika, TPA dan bahasa inggris aku sudah dapat bangku di PTS, dengan jurusan yang menstrim. Siapa sangka aku bakal memilih jalan menjadi anak teknik? Yang gambarannya tuh bakal penuh hitungan dan logika? Hingga kini aku masih berkali-kali bertanya lagi pada kemampuan otakku.

Kau tau, dari dulu aku suka bahasa asing, terutama bahasa jepang. Julukan kamus berjalan memaksaku menerjemahkan beberapa kalimat. Atau, aku biasanya menjadi sumber jawaban ketika ulangan. Buatku, mendapat angka 100 tak begitu sulit, karena setiap hari aku hampir belajar bahasa ini tentunya tanpa paksaan. Aku mulai mencoba tantangan yang lebih besar, semacam mengikuti lomba-lomba yang diadakan di berbagai universitas. Pergi subuh, pulang isya. Sampai hasilnya aku membawa piala dengan tingkat wilayah 3 pulau terbesar di Indonesia, atau sertifikat beserta cap the japan foundation. Aku begitu senang dengan usaha-usahaku yang membuahkan hasil yang manis itu, sehingga aku semakin mantap dengan pilihan jurusanku, sastra jepang. Tapi orang tuaku mengatakan tidak. Prestasi-prestasi itu tak begitu membuat mereka bangga. Mungkin mereka kira, belajar bahasa adalah mudah, otodidak pun jadi. Padahal aku mendapatkan itu semua tentunya tidak sendiri. Tapi apa boleh buat, yang kupelajari hanya dasar nya saja. Aku terlalu angkuh. Semua orang memang pasti bisa. Iya, aku melakukan hal yang orang lain pasti bisa dengan praktis. Sekarang kalau mau belajar bahasa jepang lagi, aku ingat hal ini dan membuat semangat belajarku turun.

Aku, anak teknik? Pingin ngetawain diri sendiri.

Tapi tak salah kalau aku mencoba.

Aku memang tak tau apa passionku sampai sekarang.

Kemampuan apa yang harus kuasah, hal-hal apa yang kusukai,

Apa lagi yang harus kulakukan untuk membuat orang tuaku bangga?

"Pergi subuh pulang isya" yang tak ada gunanya lol

To Tumblr, Love Pixel Union